Ada Jalan

"Kelak mau jadi apa kamu, Nak?"

Kalimat ini sepintas biasa-biasa saja. (Ya, memang biasa saja.) Anehnya, jadi lain hal jikalau kalimat ini terdengar menyusul kalimat yang satu ini; "Mau ambil jurusan apa?" Sungai Raya, Gajah Mada, Siantan Hilir, Siantan Hulu.... (dikira jurusan oplet?!) Bukan! Sekali lagi, bukan! Kalimat kutipan langsung di depan sungguh amat horor lebih dari balikan sama mantan bagi saya yang sebentar lagi(?) menanggalkan seragam putih abu-abu (entah lah apa daya bila tak lulus, amit-amiittt). 

Pasalnya setelah hampir tiga tahun bergumul dengan pelajaran sekolah beserta cs'an tugasnya yang bikin kepala nyaris terbelah dua, tidak hanya ujian yang perlu dikhawatirkan tetapi juga langkah penentu hidup berikutnya. Kuliahkah? Bekerjakah? Beberapa mungkin memilih bekerja, sebagian mungkin memilih kuliah, yang lainnya mungkin masih sibuk dengan pikirannya. Sialnya, saya termasuk ke kelompok yang ketiga. Biasa lah, 'darah muda, darahnya para remaja...' (yang tahu ini dikutip dari siapa, cukup tahu aja.) perlu diakui bila banyak mimpi-mimpi yang terlintas, banyak hal-hal besar yang ingin dicapai, banyak pula yang sejauh-jauhnya hanya angan-angan belaka. Di sini lah rasionalitas seorang manusia dibutuhkan. 

"Cukup lah kamu ambil jurusan yang sesuai minat dan bakatmu, jangan ikut-ikutan teman." Ya, benar. Apa yang kamu sukai? Pernah tidak direnungkan baik-baik? (Tanyakan pada diri sendiri. Bila perlu di depan cermin, tapi cukup dalam hati. Jangan diucapkan. Ntar dikira gila lagi.) Maka setelah masa perenungan yang panjang di bawah kaki Gunung Salak ditambah puasa 40 hari, 40 malam, bertarung dengan berbagai macam binatang yang mistis nan absurd demi mendapatkan setetes ramuan kehidupan abadi, saya kemudian..., eits. (Nyasar...) Bukan, bukan. 

Kembali ke topik. 

Setelah dipikir baik-baik dengan perenungan akal sehat (yang tentunya masih jernih), serta mempertimbangkan berbagai masukan dari guru pembimbing, jawab atas tanya didapat juga. "Menulis." Ya, saya suka menulis. Saya cinta dengan sastra Indonesia. Bukankah dengan begitu sudah sepantasnya saya masuk jurusan sastra Indonesia? Masalahnya, jurusan itu tidak tersedia di kampus terdekat, yang artinya mengharuskan saya untuk jadi anak perantauan. Lagi-lagi, sebuah hasrat yang begitu menggebu- gebu timbul dalam diri ini. Seolah saya mampu, begitu yakin bahwa ini lah yang dicari selama ini. Tidak ada yang lain! Akan tetapi, runtuh juga keyakinan yang telah kukuh bagai batu saat kalimat skeptis menohok itu dilontarkan dari bibir seorang Ibu; "Kelak mau jadi apa kamu, Nak?" Penulis? Sudah seharusnya bukan? Menjadi seorang penulis sukses. Inilah jawabku atas perenungan panjang ini. 

Namun, ternyata tidak demikian dengan orangtuaku. Maka kembali saya memaksa diri untuk memikirkan kemungkinan lain yang lebih sesuai 'standar.' Standar..., standar? Standar siapa? Heran juga, yang kuliah itu siapa?! Pikir lagi, pikir lagi, dan... Aahh.., sampai lah saya di titik tidak-lagi-terlalu-peduli terhadap perkara ini. Saya lelah menjadi begitu kritis, saya lelah memenuhi standar yang bak endapan debu di kipas angin. Lebih dari semua, saya lelah dengan hidup monoton yang saya jalani. Sekali-kali mau juga cari sensasi (sayangnya bukan artis). Akan tetapi, saya ingat ada jalan, saya ingat ada Tuhan, dan saya ingat ada jalan Tuhan. Mungkin ini lah yang terbaik, mengikuti jalan aspal yang sudah disediakan orangtua. Luruslah, di depan mungkin ada kesuksesan. Dan di tengah berbagai kemungkinan (yang artinya saya lebih skeptis lagi terhadap segala hal, bisa aja tu jalan aspal belum kering) saya kembali mengingat Tuhan.

Comments