PERJUANGAN DAN PENYESALAN KULIAH DI TAIWAN I

2016 adalah tahun yang paling berpengaruh dalam hidupku. Kuliah di Taiwan itu tidak pernah menjadi pilihan sejak awal. Aku bahkan tidak suka dengan Mandarin. Jujur aja. Ini semua karena kemauan orang tua, akhirnya aku terbang juga ke Taiwan pada bulan Oktober tahun itu. Karena pergi ke Taiwan merupakan kali pertama aku keluar negeri, senang pastinya. Semuanya terasa agak Surealis. 
Akan tetapi, rasa kagum akan keindahan negeri orang (?) tidak bertahan lama, karna aku harus segera mendaftar kuliah. Di waktu awal sampai di Taiwan, aku mendaftar sekolah bahasa Mandarin terlebih dahulu. Orang tuaku terus menerus meyakinkan bahwa aku tidak perlu khawatir untuk urusan kuliah, sekolah bahasa saja dulu. Tapi aku tidak bisa tenang... karena ijazahku saat itu belum selesai di legalisir TETO. Yang artinya aku bisa saja terancam tidak kuliah. 

Meski hati ini sering dilanda kegusaran karena kemungkinan itu, aku tetap berusaha sebaik mungkin untuk fokus ke belajar bahasa Mandarin. tetapi sampai bulan Juni 2017, ijazahku belum juga selesai. Kegusaranku semakin tidak tertahankan, hingga berat badanku naik 7kg dalam 1 bulan. Aku mulai benci dan menyalahkan semuanya. Terutama orang tuaku. Aku menyalahkan mereka karena tidak mengizinkanku untuk kuliah di universitas favoritku di Indonesia, bahkan tak membiarkan aku mencoba barang sekali saja. Aku menyalahkan mereka karena mereka memberikanku janji palsu, katanya semuanya akan beres, tapi tidak ada satu pun yang berjalan sesuai dengan ekspektasiku. Aku benci dengan diriku sendiri yang tidak cukup berani, tidak cukup keras kepala untuk memperjuangkan apa yang aku inginkan, Aku bahkan lebih membenci diriku yang menyalahkan orang lain dan keadaan, karna aku tahu betul, bahwa aku sendiri yang mengambil keputusan ini, mendengarkan orang tuaku dan datang ke Taiwan.

Biaya 6 bulan sekolah bahasa setara dengan satu semester uang kuliah di Taiwan tanpa beasiswa (50.000ntd), karena terlalu mahal, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti sekolah bahasa. Aku yang naif saat itu masih berpikir bahwa aku bisa belajar bahasa pelan-pelan begitu aku masuk kuliah. 

Ya,, aku masih mendambakan kuliah. Kuliah sebenarnya adalah impianku sejak SMP. Saat anak-anak lain berpikir tentang SMA, aku sudah terlebih dahulu membayangkan aku duduk di bangku kuliah. Aku rasa itulah alasan kenapa aku begitu mati-matian memperjuangkan kuliah. 

Keluar dari sekolah bahasa, berkat bantuan teman, aku bekerja paruh waktu di toko Indo. Sebut saja INDEX. Sambil bekerja paruh waktu, aku terus mencari informasi tentang agen yang bisa membantuku untuk legalisir ijazah ke TETO. Kasusku cukup unik, bahkan tidak ada yang berani menjamin dokumenku bisa lulus legalisir. Aku juga terus mencari informasi tentang perkuliahan, atau kampus yang lebih longgar persyaratan masuknya, dengan harapan aku bisa segera kuliah. Akhirnya aku mendaftar ke sebuah kampus inisial CTU. Kampus ini akreditasinya sangat buruk. Bahkan guru bahasa Mandarinku merasa aku tidak seharusnya melamar ke sana. Menurutnya aku cukup pintar, sangat di sayangkan bila aku masuk ke kampus itu. Tapi aku tidak menggubrisnya, karena aku benar-benar ingin kuliah; dan kampus ini satu-satunya yang mau menerima aku meskipun ijazahku belum selesai di legalisir TETO. 

Tidak bisa dipungkiri, di sinilah letak penyesalan terbesarku. Masuk ke CTU membuatku melihat betapa bobroknya sistem manajemen kampus di Taiwan, mungkin di Indonesia juga begitu, hanya saja aku tidak tahu. Ada begitu banyak penipuan, pemerasan, pembunuhan karakter, dan penumpulan otak terjadi di sini. Aku tidak lagi senang belajar atau haus akan pendidikan. Aku hanya semakin muak dengan Taiwan. Aku tahu aku tidak berhak berkata seperti itu, siapa aku? Tapi disini aku ingin berbagi hasil pengamatanku selama 4 tahun di Taiwan. 

lanjut ke perjuangan dan penyesalan kuliah di Taiwan II

Comments

  1. oh my.. i wrote this?? hahah to be honest, I've been less dramatic now, and looking back, this writing is so awkward. lol tapi aku harus menyisihkan waktu untuk memperjelas apa yg aku maksud dengan "betapa bobroknya sistem manajemen kampus di Taiwan... penipuan, pemerasan, pembunuhan karakter, dan penumpulan otak" bcs these sound serious LMAO. hahahha

    ReplyDelete

Post a Comment